BREAKING NEWS
loading...
loading...
Showing posts with label Jalan-Jalan. Show all posts
Showing posts with label Jalan-Jalan. Show all posts

Monday, 23 May 2016

Jalan-Jalan ke Pemandian Cipondok, Mata Air Aqua, Subang, Jawa Barat











Thursday, 7 January 2016

Sungai Cigeureuh, Sungai Yang Masih Jernih di Wilayah Bandung

Tidak banyak orang Bandung yang mengenal sungai Cigeureuh. Mungkin jika di sebutkan sungai Citarum, Sungai Cikapundung, atau sungai Cisangkuy, ketiganya masih familiar di telinga orang Bandung. Tapi lain halnya ketika disebutkan sungai Cigeureuh, mungkin hanya beberapa saja yang tau dimana lokasinya. Padahal sungai ini adalah salah satu atau mungkin satu-satunya sungai yang masih alami, airnya jernih dan sangat dingin yang ada di Bandung.

Sungai ini mengalir di lembah antara Gunung Puntang dan Gunung Haruman yang merupakan rangkaian pegunungan Malabar di daerah Selatan Kota Bandung. Jika siang hari cerah, anda bisa melihat kemegahan malabar yang seolah menjadi benteng kokoh di Selatan Bandung.

Aliran sungai ini masih sangat alami, berasal dari berbagai mata air diantara Gunung Puntang dan Haruman, sungai ini menjadi salah satu sungai yang masih alami di wilayah Bandung. Cobalah sesekali berkunjung ke sini dan nikmati dingin dan segarnya air sungai Cigeureuh.

Aliran sungai Cigeureuh bisa kita nikmati di objek wisata perkemahan Gunung Puntang, kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung.















Jalan-Jalan ke Kebun Mawar Kamojang, Situhapa Garut










Menikmati Bandung dari Atas Menara Mesjid Agung Bandung


Camping Ceria di Bumi Perkemahan Rancaupas Ciwidey

Suka kegiatan outdoor tapi bingung kemana?

Ulah hilap selfie

Ulah hilap sholat

Ulah hilap tuang



Sunday, 19 April 2015

Jembatan Cinta di Situ Cileunca Pangalengan, Kabupaten Bandung

Sebelumnya saya ingin coba anda mengingat kembali tempat wisata mana saja yang pernah anda kunjungi di wilayah Bandung Selatan?

Daerah Bandung Selatan memiliki dua area wisata utama yang sudah terkenal yakni wilayah kecamatan Ciwidey dan kecamatan Pangalengan. Jika anda selama ini lebih sering berkunjung ke wilayah Ciwidey, maka cobalah suatu hari untuk berkunjung ke wilayah Pangalengan yang juga berada di ketinggian dan memiliki udara yang tak kalah sejuk dibanding Ciwidey. Daerah Pangalengan memiliki beberapa tempat wisata menarik untuk dikunjungi. Selain menarik, sudah barang tentu tempat wisata di Bandung ini murah meriah dan mudah dijangkau dari kota Bandung. Dengan jarak hanya sekitar 50 kilometer dari pusat kota Bandung, tempat ini dapat dijangkau dengan waktu tempuh kurang dari dua jam dengan kendaraan pribadi.

Salah satu tempat wisata alam menarik di wilayah Pangalengan ini adalah Situ Cileunca. Situ berarti Danau dalam bahasa Sunda dan Cileunca merujuk pada pohon Leunca yang konon dulunya banyak terdapat di sekitar wilayah danau ini. Situ Cileunca merupakan danau buatan yang pembangunannya berlangsung antara tahun 1919-1926. Konon pembangunan Situ ini memakan waktu lama karena luasnya wilayah danau dan penggunaan alat pembangunannya yang hanya menggunakan halu atau alat penumbuk padi.

Selama 7 tahun pembangunannya ini, Situ Cileunca mengumpulkan air dari aliran sungai Cileunca dan membentuk sebuah bendungan bernama Dam Pulo. Pada akhirnya Situ Cileunca ini memiliki luas sekitar 180 hektar dan menjadi cadangan sumber air bersih bagi warga di kota Bandung dengan debit sekitar 9.89 juta meter kubik.

Situ ini berada di ketinggian 1550 meter diatas permukaan laut. Bisa dibayangkan bagaimana sejuknya wilayah ini di tengah hari sekalipun. Saya sering melewati wilayah ini di malam hari ketika hendak berkunjung ke Pantai Rancabuaya melewati jalur Pangalengan-Cisewu-Rancabuaya. Pada tengah malam dan dini hari wilayah ini nampak begitu sepi dan dingin. Yang tersisa hanya suara binatang malam dan penampakan pantulan lampu di permukaan danau dari bangunan di sekitar danau ini.

jembatan cinta Situ Cileunca via kipsaint.com

Situ Cileunca ini memisahkan dua wilayah desa yakni Desa Wanasari dan Desa Pulosari. Karena luasnya wilayah Danau ini, maka seringkali warga dari kedua desa yang terpisah oleh danau ini harus memutar menelusuri jalan di pinggiran danau untuk dapat menuju desa lainnya. Karena dirasa terlalu jauh, maka warga masyarakat berinisiatif membangun jembatan yang membelah danau ini pada jarak terdekatnya sehingga warga dari desa Wanasari bisa dengan cepat dan mudah untuk menuju desa Pulosari, begitu juga sebaliknya. Jembatan yang cukup kokoh karena terbuat dari beton dan di cat merah di bagian pembatas sisi kiri dan kanannya ini bisa dilewati oleh dua sepeda motor dari jalur berlawanan. Warna merah yang kontras di tengah indahnya danau ini menambah keindahan dari Situ Cileunca ini. Di sore hari seringkali jembatan ini dijadikan tempat berkumpul mempertemukan dua muda mudi dari kedua desa. Karena alasan inilah jembatan ini kemudian dikenal dengan Jembatan Cinta.

Minggu lalu ditemani Yunni saya coba berkunjung ke Situ Cileunca ini. Berangkat di pagi hari  karena ingin menikmati segarnya udara wilayah Pangalengan, kami berdua sudah melaju menuju daerah Selatan Bandung pada jam 7 pagi. Walaupun jalanan dari Ujungberung sudah nampak ramai melewati jalan Soekarno Hatta, lalu berbelok ke Selatan di perempatan Buah Batu, namun tidak ada kemacetan berarti hingga wilayah pasar Banjaran. Lalu lintas disini memang sedikit semrawut karena kesibukan pasar dan terminal bayangan. Setelah melewati pasar Banjaran kita berbelok arah ke kiri di wilayah kamasan menuju jalan Raya Banjaran-Pangalengan. Jalanan disini mulai mendaki dan akan mulai berkelok kelok setelah melewati kecamatan Cimaung. Jalanan tidak akan terlalu sulit ditempuh di pagi hari karena jalan masih kosong dan tidak terlalu banyak truk yang lewat. Lain halnya jika siang hari, anda harus mengantri beriringan dengan kendaraan lain karena jalur yang menanjak dan sempit. Apalagi jika ada truk yang tidak kuat menanjak, anda harus bersabar untuk merayap di belakangnya.

Sesampainya di wilayah Pangalengan, anda akan menemukan sebuah bunderan yang memisahkan jalan ke kiri ke arah perkebunan Malabar dan Cibolang sedangkan untuk menuju ke Situ Cileunca anda harus mengambil arah jalan ke kanan. Dari sini jalanan sedikit menurun dan beberapa kemudian sampailah anda di wilayah situ Cileunca.

Ada dua alternatif bagi anda yang ingin menikmati keindahan Situ Cileunca ini. Pertama anda bisa memasuki wilayah gerbang Utama Objek Wisata Situ Cileunca. Dengan membayar tiket sebesar Rp 5000/orang anda bisa memasuki areal wisata ini. Karena saya menggunakan sepeda motor ketika itu saya harus membayar tiket sesuai dengan tulisan yang tertera yakni Rp 14.000 (untuk sepeda motor + penumpang).



Dia areal utama ini anda bisa menikmati Situ Cileunca dari pinggir danau, terdapat pula warung-warung makanan dan juga perahu yang bisa disewa untuk menyebrangi Danau ini. Harga yang ditawarkan untuk perahu adalah sekitar Rp 75.000 / perahu yang bisa diisi sekitar 10 orang penumpang sehingga bila terisi penuh maka harga yang dipatok sekitar Rp 7500 / orang.



Bagi anda yang menyukai wisata adventure, di Situ Cileunca ini juga terdapat wisata Arum Jeram menelusuri aliran sungai Cileunca yang memiliki arus cukup deras. Terdapat juga wisata outbond dan juga permainan Paint Ball.

Setelah puas menikmati Situ Cileunca dari areal ini, kami berdua mencoba untuk berkunjung ke Jembatan Cinta di daerah Dam Pulo. Untuk menuju ke sana, saya harus kembali berbalik arah ke arah Bandung karena Jembatan Cinta ini terletak sebelum Pintu Masuk Utama Objek Wisata Situ Cileunca ini. 



Patokan menuju Jembatan Cinta ini adalah anda harus berhenti di perempatan sebelum memasuki areal Situ Cileunca. Dari perempatan kecil ini anda berbelok ke kiri dan menelusuri pematang atau pinggiran Situ Cileunca yang berupa bendungan. Ketika menemukan lapangan sepak bola, berbeloklah ke kanan. Biasanya disini terdapat Remaja Karang Taruna yang menjaga parkir motor anda dengan aman. Anda harus membayar uang keamanan sebesar Rp 2000. Anda juga bisa membawa sepeda motor anda masuk menyusuri pinggiran danau menuju Jembatan Cinta. Di hari libur jembatan ini akan sangat ramai dikunjungi wisatawan.



Hari masih siang ketika kami sudah puas menikmati Situ Cileunca dan Jembatan Cinta-nya. Penasaran dengan pemandangan di sekitar Situ Cileunca yang menghijau saya coba untuk berkeliling menyusuri pinggiran Situ Cileunca. Wilayah Situ Cileunca ini dikelilingi oleh dua perkebunan teh yakni Perkebunan Teh Malabar dan Perkebunan Teh Cukul. Perkebunan Teh Cukul ini terletak di jalur utama Pangalengan-Cisewu-Rancabuaya, jalur alternatif Bandung - Garut via Pangalengan. Setelah tengah hari saya meneruskan perjalanan menuju perkebunan Cukul


Jalur menuju Perkebunan Cukul ini sangat baik, mulus, dan sepi, sehingga banyak juga pecinta Cornering latihan berbelok sambil rebahan ala Moto GP di sini. Saya juga tak mau kalah memacu motor saya ala Moto GP di sini. Tertarik mencoba? hehe




Namun sayang, banyaknya pecinta Cornering dengan knalpot berisik tersebut membuat keheningan di tempat ini terganggu. Layaknya perkebunan teh lain, tempat ini juga memberikan sensasi keheningan 0 desibel yang jarang anda temukan di daerah perkotaan di tengah malam sekalipun.

Saturday, 14 March 2015

Jalan-Jalan ke Alun-Alun Bandung, Menikmati Keindahan Taman Masjid Raya Bandung Propinsi Jawa Barat Di Malam Hari



Bandung memang kota yang punya banyak pesona menarik. Tak heran banyak sekali wisatawan yang ingin berkunjung ke kota yang menjadi ibukota Propinsi Jawa Barat ini. Sepertinya Bandung tidak pernah tidur. Siang Malam kota ini selalu ramai dilalui oleh lalu lalang orang-orang. Wisata belanja, wisata alam, dan juga wisata kulinernya mampu menarik banyak orang untuk selalu berkunjung ke kota ini lagi dan lagi.

Semakin banyaknya wisatawan yang datang ke kota Bandung membuat pembangunan di kota ini begitu pesat, terutama pembangunan hotel-hotel. Jarak Bandung dari Jakarta sebagai ibu kota negara yang bisa ditempuh hanya dengan 2 jam perjalanan darat menggunakan mobil melalui jalan tol Cipularang membuat wisatawan semakin mudah berkunjung ke Bandung, baik itu wisatawan domestik maupun mancanegara.

Semenjak pemerintahan Walikota Bandung Ridwan Kamil, Bandung mulai berbenah membangun taman-taman dan ruang terbuka hijau. Banyaknya wisatawan yang datang setiap hari dan mencapai puncaknya di akhir pekan membuat kota Bandung semakin sering dilanda kemacetan. Untuk itu hadirnya ruang terbuka hijau di tengah kota Bandung ini bagaikan angin segar, terutama bagi warga asli kota Bandung. Salah satu taman yang baru saja diresmikan dan paling banyak dikunjungi adalah Taman Masjid Raya Jawa Barat yang terletak di halaman Masjid Raya Jawa Barat atau Masjid Agung. Warga masyarakat kota Bandung lebih suka menyebutnya sebagai Alun-Alun Bandung.

Masjid Raya Bandung Jawa Barat sebelumnya bernama Masjid Agung dibangun pertama kali pada tahun 1810 dan dibuka pada tahun 1812. Masjid Agung Bandung dibangun bersamaan dengan dipindahkannya pusat kota Bandung dari Krapyak (Dayeuh Kolot di Kabupaten Bandung), sekitar sepuluh kilometer Selatan kota Bandung ke pusat kota sekarang. Masjid ini pada awalnya dibangun dengan bentuk bangunan panggung tradisional yang sederhana, bertiang kayu, berdinding anyaman bambu, beratap rumbia dan dilengkapi sebuah kolam besar sebagai tempat mengambil air wudhlu. Air kolam ini berfungsi juga sebagai sumber air untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di daerah Alun-Alun Bandung pada tahun 1825.

Setahun setelah kebakaran, pada tahun 1826 dilakukan perombakkan terhadap bangunan masjid dengan mengganti dinding bilik bambu serta atapnya dengan bahan dari kayu. Perombakan dilakukan lagi tahun 1850 seiring pembangunan Jalan Groote Postweg (kini Jalan Asia Afrika). Masjid kecil tersebut mengalami perombakkan dan perluasan atas instruksi Bupati R.A Wiranatakusumah IV atap masjid diganti dengan genteng sedangkan didingnya diganti dengan tembok batu-bata.

Ilustrasi Mesjid Agung Bandung oleh W. Spreat 1852 dalam buku De Zieke Reiziger via wikipedia

Kemegahan Masjid Agung Bandung waktu itu sampai-sampai di-abadikan dalam lukisan pelukis Inggris bernama W Spreat pada tahun 1852. Dari lukisan tersebut, terlihat atap limas besar bersusun tiga tinggi menjulang dan mayarakat menyebutnya dengan sebutan bale nyungcung. Kemudian bangunan masjid kembali mengalami perubahan pada tahun 1875 dengan penambahan pondasi dan pagar tembok yang mengelilingi masjid

Seiring perkembangan zaman, masyarakat Bandung menjadikan masjid ini sebagai pusat kegiatan keagamaan yang melibatkan banyak umat seperti pengajian, perayaan Muludan, Rajaban atau peringatan hari besar Islam lain bahkan digunakan sebagai tempat dilangsungkan akad nikah. Sehingga pada tahun 1900 untuk melengkapinya sejumlah perubahan pun dilakukan seperti pembuatan mihrab dan pawestren (teras di samping kiri dan kanan).

Masjid Agung Bandung pada tahun 1929, dengan corak khas Sunda via wikipedia


Kemudian pada tahun 1930, perombakan kembali dilakukan dengan membangun pendopo sebagai teras masjid serta pembangunan dua buah menara pada kiri dan kanan bangunan dengan puncak menara yang berbentuk persis seperti bentuk atap masjid sehingga semakin mempercatik tampilan masjid. Konon bentuk seperti ini merupakan bentuk terakhir Masjid Agung Bandung dengan kekhasan atap berbentuk nyungcung.

Menjelang konferensi Asia Afrika pada tahun 1955, Masjid Agung Bandung mengalamai perombakan besar-besaran. Atas rancangan Presiden RI pertama, Soekarno, Masjid Agung Bandung mengalami perubahan total diantaranya kubah dari sebelumnya berbentuk “nyungcung” menjadi kubah persegi empat bergaya timur tengah seperti bawang.

Masjid Agung Bandung dan Alun-alun Bandung tahun 1955-1970 via wikipedia

Selain itu menara di kiri dan kanan masjid serta pawestren berikut teras depan dibongkar sehingga ruangan masjid hanyalah sebuah ruangan besar dengan halaman masjid yang sangat sempit. Keberadaan Masjid Agung Bandung yang baru waktu itu digunakan untuk shalat para tamu peserta Konferensi Asia Afrika.

Kubah berbentuk bawang rancangan Sukarno hanya bertahan sekitar 15 tahun. Setelah mengalami kerusakan akibat tertiup angin kencang dan pernah diperbaiki pada tahun 1967, kemudian kubah bawang diganti dengan bentuk bukan bawang lagi pada tahun 1970.

Berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat tahun 1973, Masjid Agung Bandung mengalami perubahan besar-besaran lagi. Lantai masjid semakin diperluas dan dibuat bertingkat. Terdapat ruang basement sebagai tempat wudlu, lantai dasar tempat shalat utama dan kantor DKM serta lantai atas difungsikan untuk mezanin yang berhubungan langsung dengan serambi luar. Di depan masjid dibangun menara baru dengan ornamen logam berbentuk bulat seperti bawang dan atap kubah masjid berbentuk Joglo.

Tempat ini kini disulap menjadi ruang terbuka hijau yang nyaman. Walaupun menggunakan rumput sintetis, namun tempat ini bagaikan oasis di tengah kemacetan di jalan-jalan sekitar Alun-Alun Bandung. Karena berada dipusat kota dan pusat keramaian tempat ini menjadi taman yang paling banyak dikunjungi baik pada siang maupun malam hari.



Jika di siang hari datanglah di pagi atau sore hari. Hindari saat tengah hari karena panas terik membuat rumput sintetis menjadi sangat panas dan tidak nyaman untuk diinjak. Jangan lupa untuk menikmati ketenangan solat di masjid Raya Jawa Barat ini. 

Eksotisme Masjid Raya Bandung saat malam hari

Di malam hari, tempat ini menawarkan pemandangan tersendiri. Cobalah untuk berkunjung ke tempat ini selepas solat magrib. Lampu-lampu yang ditata sedemikian rupa membuat taman ini begitu eksotis. Dengan hawa sejuk khas kota Bandung, tempat ini cocok untuk anda kunjungi saat menghabiskan malam di kota Bandung.


Terdapat beberapa kursi dan meja berjejer untuk menikmati makanan dan minuman. Pastikan kendaraan yang anda bawa diparkir di basement tepat dibawah taman ini. Buanglah sampah pada tempat sampah yang banyak terdapat di beberapa tempat di taman ini. Sebagai warga kota yang baik dan juga sebagai wisatawan yang baik, anda harus selalu menjaga kebersihan di manapun tempat yang anda kunjungi.


Wednesday, 18 February 2015

Jalan-Jalan Sore di Taman Balai Kota Bandung

Masyarakat di perkotaan umumnya sangat jarang melihat pemandangan hijau yang asri, sejuk dan sangat meriindukan tempat dengan kumpulan pepohonan rindang. Gaya hidup masyarakat perkotaan yang identik dengan kemacetan dan polusi udara membuat kebutuhan akan ruang terbuka hijau semakin tinggi. Berbagai konsep wilayah pemukiman yang bersahabat dengan alam dan dilengkapi sarana ruang terbuka hijau semakin diminati oleh masyarakat. Beruntung, kota Bandung yang terkenal dengan sebutan Paris van Java kini mulai berbenah untuk kembali menjadi kota Kembang yang menghijau dan Asri. Semenjak pemerintahan walikota Ridwan Kamil di tahun 2013, Bandung mulai kembali menata dan menambah ruang terbuka hijau yang diperuntukkan bagi masyarakatnya.



Menurut sejarahnya, sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda, Bandung sudah disiapkan untuk menjadi Tuinstad atau "Kota Taman". Saat itu pemerintah Belanda berencana ingin menjadikan kota Bandung sebagai salah satu kota khusus bagi masyarakat Eropa, sehingga pembangunan di kota Bandung ini pun terlihat sangat berbau Eropa. Maka dari itulah mulai terkenal sebutan Paris van Java, karena seolah kota Paris di Eropa seperti ingin dipindahkan ke Bandung.

Rencana untuk menjadikan kota Bandung seperti Eropa ini kemudian mendapat tentangan dari mestro arsitek Belanda, Hendrik Petrus Berlage yang datang ke kota Bandung tahun 1923. Ia mengkritik bentuk Bangunan di Indonesia yang tidak menonjolkan ciri khas wilayah Tropis. Kritika ini disambut oleh perkumpulan Bandoeng Vooruit yang awalnya lahir dari organisasi Vereeniging tot van Bandoeng en Omstreken yang merupakan wadah bagi masyarakat Belanda yang ada di Bandung untuk bermusyarah.

Para ahli taman yang terdapat di perkumpulan ini kemudian bersama-sama mencari desain taman tropis untuk kota Bandung. Konsep yang digagas adalah konsep taman terbuka yang bebas dikunjungi warga kota dan menjadi wahana efektif guna mengakrabkan kehidupan warga kota dengan alam. Taman terbuka ini dapat digunakan untuk rekreasi, tempat penelitian, pengenalan jenis flora tripis maupun untuk studi tentang siklus alam.

Untuk mencapai tujuan tersebut perkumpulan Bandung Vooruit selama tahun 1930-1935 berusaha mengubah taman-taman di kota Bandung menjadi mini botanical garden. Sebagai sarana untuk mengenal dan belajar mengenai tanaman, keterangan nama jenis tiap tumbuhan  dalam bahasa Latin, SUnda, serta bahasa Indonesia.

Berdasarkan istilah Belanda saat itu, taman (park) dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain park, plein, plantsoen, stadstuin, boulevard. Park adalah sebidang tanah yang dipagari sekelilingnya, ditata secara teratur dan artistik, ditanami pohon lindung, tanaman hias, rumput dan berbagai jenis tanaman bunga. Selain itu dilengkapi juga jaringan jalan, bangku tempat duduk dan lampu penerangan yang berseni. Kadang kala taman dilengkapi kolam ikan dengan tanaman teratainya, tempat berteduh yang sering disebut Gazebo atau Belvedere, kandang binatang atau unggas dan saluran air yang teratur.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa makna taman bagi Kota Bandung tak hanya sebagai paru-paru kota atau ruang terbuka hijau (RTH). Banyak caatan sejarah yang dapat digai dari proses pembangunan dan perubahan yang terjadi di taman-taman di kota Bandung. Beberapa taman di kota Bandung yang merupakan peninggalan Pemerintahan Hindia Belanda yang sampai sekarang masih dpat kita jumpai antara lain Ijzerman Park (Taman Ganeca), Molukkenpark (Taman Maluku), Pieter Sijthoffpark(Taman Merdeka), Insulindenpark (Taman Nusantara/Taman Lalu Lintas) dan Jubileumpark (Taman Sari atau Kebun Binatang). Sekitar tahun 1950an, Presiden Soekarno melarang rakyat menggunakan bahasa BElanda, maka taman-taman kota ini pun diubah namanya ke dalam Bahasa Indonesia.

Salah satu dari sekian banyak taman peninggalan Belanda yang ada di kota Bandung saat ini adalah  Pieters Park, atau kemudia dikenal sebagai Taman Merdeka atau Taman Dewi Sartika. Sekarang taman itu berganti nama menjadi Taman Balai Kota Bandung karena letaknya tepat di depan Kantor Walikota Bandung.



Taman Balai Kota Bandung ini merupakan taman yang pertama kali dibangun di kota Bandung. Lokasinya terdapat di Kompleks Balai Kota Bandung, dibangun pada tahun 1885 untuk mengenang jasa Asisten Residen Pieter Sijthoff, sang peletak dasar pembangunan kota Bandung. Taman dengan luas 14.720 meter persegi ini dibangun oleh Dr. R. Teuscher, seorang Botanikus yang tinggal di pojok jalan Tamblong. Ia ditunjuk untuk membangun sebuah taman peringatan di depan Gedung Papak (Balaikota Bandung) yang saat itu menjadi kediaman resmi Asisten Residen Priangan.

Di taman yang berbentuk bujur sangkar itu, berdiri sebuah bangunan berbentuk bulat yang dahulu digunakan sebagai tempat berteduh dan tempat memainkan orkes musik. Bangunan bulat ini sering disebut sebagai Gazebo atau Belvedere. Taman ini juga sering digunakan sebagai tempat berkumpulnya tentara yang akan melakukan taptoe atau pawai obor keliling kota. Selain itu, Pieters Park yang dahulu dikelilingi beberapa bangunan sekolah, juga menjadi tempat istirahat para pelajar sambil menghafal bahan pelajaran di sian hari.



Pada 4 Desember 1996, di taman ini ditempatkan patung Pahlawan Nasional Dewi Sartika, yang kemudian mengubah naman taman ini menjadi Taman Dewi Sartika. Kini di masa pemerintahan Walikota Bandung, taman ini dipercantik di beberapa bagian. Karena letaknya yang berada di kompleks Balai Kota Bandung, taman ini kemudian lebih dikenal sebagai Taman Balaikota Bandung.

Sebagai salah satu Ruang terbuka Hijau yang ada di pusat kota Bandung, taman ini terbuka untuk umum. Kita bisa masuk melalui pintu masuk di jalan Wastukencana, dekat SMKN 1 Bandung. Tersedia lahan parkir yang luas untuk kendaraan roda dua dan roda empat. Jika anda datang di hari kerja, jangan lupa untuk melapor ke petugas keamanan karena dihari kerja, taman ini juga menjadi pelataran parkir pegawai pemkot Bandung.



Selain Gratis, taman ini dilengkapi pula dengan fasilitas Wifi. Terdapat fasilitas toilet umum, gazebo, serta banyak tempat duduk bagi anda yang ingin menikmati udara segar diantara pepohonan rindang. Taman Balai Kota Bandung juga menyimpan beberapa patung seperti Patung Dewi Sartika-salah satu pahlawan wanita Jawa Barat, Patung Badak-untuk melambangkan binatang khasa Jawa Barat, badak Putih dan Patung Merpati-untuk memperingati dilepasnya 800 ekor merpati di taman ini.

Di akhir pekan, Taman Balai Kota Bandung sering digunakan juga sebagai salah satu tempat berolahraga ringan, seperti lari pagi dan bersepeda. Bahkan, di jalan utama yang mengelilingi taman ini, disediakan jalur khusus untuk pengguna sepeda.
 


Selain itu banyak juga para pelajar yang berkumpul di akhir pekan untuk sekedar berlatih ekstrakurikuler seperti Paskibra, Marching Band, Modern Dance. Selain sebagai tempat berekreasi bagi masyarakat, tempat ini juga bisa menjadi tempat bagi anak muda Bandung untuk saling berinteraksi, mengasah kreatifitas dan juga saling unjuk kebolehan. Terbukti Taman Balaikota ini sering menjadi tempat diadakannya berbagai perlombaan.



Beberapa waktu yang lalu, di hari Sabtu ketika saya berkunjung ke tempat ini bersama rekan saya, nampak para pekerja sedang menyelesaikan pembuatan taman dan air mancur yang dibangun tepat di depat gedung Balaikota. Nampak sangat cantik dan terlihat menyejukkan dengan dihiasi berbagai tanaman yang memberi aksen warna yang berbeda. Nampak Bandung sedang kembali mempercantik dan menata diri menuju Bandung yang dikenal sebagai kota Kembang. Bandung kita Bandung Juara. Terima Kasih, Hatur Nuhun atas kontribusi besar dari Walikota Bandung saat ini kang Ridwan Kamil sehingga Bandung kembali cantik. Saya Bangga menjadi warga Bandung. Bagaimana dengan anda??



loading...
 
Copyright © 2014 Rasendriya Bercerita. Designed by OddThemes