BREAKING NEWS
loading...
loading...
Showing posts with label Touring. Show all posts
Showing posts with label Touring. Show all posts

Monday, 23 May 2016

Jalan-Jalan ke Pemandian Cipondok, Mata Air Aqua, Subang, Jawa Barat











Thursday, 7 January 2016

Jalan-Jalan ke Kebun Mawar Kamojang, Situhapa Garut










Camping Ceria di Bumi Perkemahan Rancaupas Ciwidey

Suka kegiatan outdoor tapi bingung kemana?

Ulah hilap selfie

Ulah hilap sholat

Ulah hilap tuang



Sunday, 19 April 2015

Jembatan Cinta di Situ Cileunca Pangalengan, Kabupaten Bandung

Sebelumnya saya ingin coba anda mengingat kembali tempat wisata mana saja yang pernah anda kunjungi di wilayah Bandung Selatan?

Daerah Bandung Selatan memiliki dua area wisata utama yang sudah terkenal yakni wilayah kecamatan Ciwidey dan kecamatan Pangalengan. Jika anda selama ini lebih sering berkunjung ke wilayah Ciwidey, maka cobalah suatu hari untuk berkunjung ke wilayah Pangalengan yang juga berada di ketinggian dan memiliki udara yang tak kalah sejuk dibanding Ciwidey. Daerah Pangalengan memiliki beberapa tempat wisata menarik untuk dikunjungi. Selain menarik, sudah barang tentu tempat wisata di Bandung ini murah meriah dan mudah dijangkau dari kota Bandung. Dengan jarak hanya sekitar 50 kilometer dari pusat kota Bandung, tempat ini dapat dijangkau dengan waktu tempuh kurang dari dua jam dengan kendaraan pribadi.

Salah satu tempat wisata alam menarik di wilayah Pangalengan ini adalah Situ Cileunca. Situ berarti Danau dalam bahasa Sunda dan Cileunca merujuk pada pohon Leunca yang konon dulunya banyak terdapat di sekitar wilayah danau ini. Situ Cileunca merupakan danau buatan yang pembangunannya berlangsung antara tahun 1919-1926. Konon pembangunan Situ ini memakan waktu lama karena luasnya wilayah danau dan penggunaan alat pembangunannya yang hanya menggunakan halu atau alat penumbuk padi.

Selama 7 tahun pembangunannya ini, Situ Cileunca mengumpulkan air dari aliran sungai Cileunca dan membentuk sebuah bendungan bernama Dam Pulo. Pada akhirnya Situ Cileunca ini memiliki luas sekitar 180 hektar dan menjadi cadangan sumber air bersih bagi warga di kota Bandung dengan debit sekitar 9.89 juta meter kubik.

Situ ini berada di ketinggian 1550 meter diatas permukaan laut. Bisa dibayangkan bagaimana sejuknya wilayah ini di tengah hari sekalipun. Saya sering melewati wilayah ini di malam hari ketika hendak berkunjung ke Pantai Rancabuaya melewati jalur Pangalengan-Cisewu-Rancabuaya. Pada tengah malam dan dini hari wilayah ini nampak begitu sepi dan dingin. Yang tersisa hanya suara binatang malam dan penampakan pantulan lampu di permukaan danau dari bangunan di sekitar danau ini.

jembatan cinta Situ Cileunca via kipsaint.com

Situ Cileunca ini memisahkan dua wilayah desa yakni Desa Wanasari dan Desa Pulosari. Karena luasnya wilayah Danau ini, maka seringkali warga dari kedua desa yang terpisah oleh danau ini harus memutar menelusuri jalan di pinggiran danau untuk dapat menuju desa lainnya. Karena dirasa terlalu jauh, maka warga masyarakat berinisiatif membangun jembatan yang membelah danau ini pada jarak terdekatnya sehingga warga dari desa Wanasari bisa dengan cepat dan mudah untuk menuju desa Pulosari, begitu juga sebaliknya. Jembatan yang cukup kokoh karena terbuat dari beton dan di cat merah di bagian pembatas sisi kiri dan kanannya ini bisa dilewati oleh dua sepeda motor dari jalur berlawanan. Warna merah yang kontras di tengah indahnya danau ini menambah keindahan dari Situ Cileunca ini. Di sore hari seringkali jembatan ini dijadikan tempat berkumpul mempertemukan dua muda mudi dari kedua desa. Karena alasan inilah jembatan ini kemudian dikenal dengan Jembatan Cinta.

Minggu lalu ditemani Yunni saya coba berkunjung ke Situ Cileunca ini. Berangkat di pagi hari  karena ingin menikmati segarnya udara wilayah Pangalengan, kami berdua sudah melaju menuju daerah Selatan Bandung pada jam 7 pagi. Walaupun jalanan dari Ujungberung sudah nampak ramai melewati jalan Soekarno Hatta, lalu berbelok ke Selatan di perempatan Buah Batu, namun tidak ada kemacetan berarti hingga wilayah pasar Banjaran. Lalu lintas disini memang sedikit semrawut karena kesibukan pasar dan terminal bayangan. Setelah melewati pasar Banjaran kita berbelok arah ke kiri di wilayah kamasan menuju jalan Raya Banjaran-Pangalengan. Jalanan disini mulai mendaki dan akan mulai berkelok kelok setelah melewati kecamatan Cimaung. Jalanan tidak akan terlalu sulit ditempuh di pagi hari karena jalan masih kosong dan tidak terlalu banyak truk yang lewat. Lain halnya jika siang hari, anda harus mengantri beriringan dengan kendaraan lain karena jalur yang menanjak dan sempit. Apalagi jika ada truk yang tidak kuat menanjak, anda harus bersabar untuk merayap di belakangnya.

Sesampainya di wilayah Pangalengan, anda akan menemukan sebuah bunderan yang memisahkan jalan ke kiri ke arah perkebunan Malabar dan Cibolang sedangkan untuk menuju ke Situ Cileunca anda harus mengambil arah jalan ke kanan. Dari sini jalanan sedikit menurun dan beberapa kemudian sampailah anda di wilayah situ Cileunca.

Ada dua alternatif bagi anda yang ingin menikmati keindahan Situ Cileunca ini. Pertama anda bisa memasuki wilayah gerbang Utama Objek Wisata Situ Cileunca. Dengan membayar tiket sebesar Rp 5000/orang anda bisa memasuki areal wisata ini. Karena saya menggunakan sepeda motor ketika itu saya harus membayar tiket sesuai dengan tulisan yang tertera yakni Rp 14.000 (untuk sepeda motor + penumpang).



Dia areal utama ini anda bisa menikmati Situ Cileunca dari pinggir danau, terdapat pula warung-warung makanan dan juga perahu yang bisa disewa untuk menyebrangi Danau ini. Harga yang ditawarkan untuk perahu adalah sekitar Rp 75.000 / perahu yang bisa diisi sekitar 10 orang penumpang sehingga bila terisi penuh maka harga yang dipatok sekitar Rp 7500 / orang.



Bagi anda yang menyukai wisata adventure, di Situ Cileunca ini juga terdapat wisata Arum Jeram menelusuri aliran sungai Cileunca yang memiliki arus cukup deras. Terdapat juga wisata outbond dan juga permainan Paint Ball.

Setelah puas menikmati Situ Cileunca dari areal ini, kami berdua mencoba untuk berkunjung ke Jembatan Cinta di daerah Dam Pulo. Untuk menuju ke sana, saya harus kembali berbalik arah ke arah Bandung karena Jembatan Cinta ini terletak sebelum Pintu Masuk Utama Objek Wisata Situ Cileunca ini. 



Patokan menuju Jembatan Cinta ini adalah anda harus berhenti di perempatan sebelum memasuki areal Situ Cileunca. Dari perempatan kecil ini anda berbelok ke kiri dan menelusuri pematang atau pinggiran Situ Cileunca yang berupa bendungan. Ketika menemukan lapangan sepak bola, berbeloklah ke kanan. Biasanya disini terdapat Remaja Karang Taruna yang menjaga parkir motor anda dengan aman. Anda harus membayar uang keamanan sebesar Rp 2000. Anda juga bisa membawa sepeda motor anda masuk menyusuri pinggiran danau menuju Jembatan Cinta. Di hari libur jembatan ini akan sangat ramai dikunjungi wisatawan.



Hari masih siang ketika kami sudah puas menikmati Situ Cileunca dan Jembatan Cinta-nya. Penasaran dengan pemandangan di sekitar Situ Cileunca yang menghijau saya coba untuk berkeliling menyusuri pinggiran Situ Cileunca. Wilayah Situ Cileunca ini dikelilingi oleh dua perkebunan teh yakni Perkebunan Teh Malabar dan Perkebunan Teh Cukul. Perkebunan Teh Cukul ini terletak di jalur utama Pangalengan-Cisewu-Rancabuaya, jalur alternatif Bandung - Garut via Pangalengan. Setelah tengah hari saya meneruskan perjalanan menuju perkebunan Cukul


Jalur menuju Perkebunan Cukul ini sangat baik, mulus, dan sepi, sehingga banyak juga pecinta Cornering latihan berbelok sambil rebahan ala Moto GP di sini. Saya juga tak mau kalah memacu motor saya ala Moto GP di sini. Tertarik mencoba? hehe




Namun sayang, banyaknya pecinta Cornering dengan knalpot berisik tersebut membuat keheningan di tempat ini terganggu. Layaknya perkebunan teh lain, tempat ini juga memberikan sensasi keheningan 0 desibel yang jarang anda temukan di daerah perkotaan di tengah malam sekalipun.

Tuesday, 20 January 2015

Jalan-Jalan ke Goa Pawon dan Taman Batu Citatah, Stone Garden di Kabupaten Bandung Barat

Ini posting kedua saya tentang tempat ini. Memang Taman Batu Citatah ini tidak sebooming Tebing Keraton yang saat ini sedang rame-ramenya dikunjungi, namun bagi saya tempat ini memberikan kesan khusus, terutama saat  membayangkan sejarah yang mengiringi terbentuknya tempat ini.

April 2004 menjadi awal saya berkenalan dengan tempat ini, lalu tahun 2012 saya kembali ke sini dengan kondisi tak jauh beda ketika 8 tahun sebelumnya saya berkunjung. Namun kemarin, September 2014 saya melihat banyak perubahan positif di tempat yang kali ini sudah resmi menjadi objek wisata di wilayah Kabupaten Bandung Barat ini.

Objek Wisata dan Sejarah Goa Pawon dan Taman Batu Citatah ini seolah menjadi satu paket wisata yang terletak di wilayah Barat Bandung, tepatnya di daerah Citatah, Cipatat Kabupaten Bandung. Jika berkunjung ke Goa Pawon, anda bisa sekaligus menikmati keindahan Taman Batu Citatah yang berada di atasnya.

Gunung Masigit tahun 2012 ketika masih aktif ditambang dilihat dari puncak Pasir Pawon

Sebagai gambaran bagi yang belum pernah ke sini, tempat ini berupa sebuah bukit kapur yang terbentuk jutaan tahun yang lalu karena dulunya daerah ini adalah daerah di bawah permukaan laut dangkal. Jika anda membayangkan sedang menyelam di Taman Laut Bunaken, kurang lebih seperti itulah kondisi tempat ini jutaan tahun yang lalu. Setelah mengalami berbagai pergerakan lempeng bumi, wilayah ini sekarang berada di atas daratan dan menjadi sebuah bukit. Lapisan tanah di sini sangat tipis karena bukit ini memang murni terbentuk dari kapur. Material letusan Gunung yang meletus di sekitar tempat ini membuat bukit kapur ini sebagian tertutup tanah yang cukup subur sehingga nampak di sebagian wilayah bukit ini nampak hijau ditanami tumbuhan. Namun sebagian tempat lagi terlihat batu kapur yang terlihat menjulang kokoh. Tonjolan-tonjolan batu kapur yang beraneka ragam ini terlihat sangat indah berpadu dengan hijau nya alam di sekitar wilayah ini.

Sejarah tempat ini dimulai pada zaman Miosen (sekitar 20 juta tahun lalu), pada waktu itu daerah Bandung ke Utara merupakan laut dan tempat ini menjadi bukti bagaimana fosil koral kemudian terbentuk menjadi rangkaian bukit kapur sepanjang daerah ini.



Goa Pawon ini merupakan sebuah goa yang terdapat di kaki Pasir Pawon. Pasir dalam bahasa Sunda berarti gunung/bukit kecil). Sedangkan Pawon berarti Dapur. Dinamakan Pasir Pawon karena di bukit ini terdapat Goa yang didalamnya banyak ditemukan perkakas/peralatan dapur peninggalan manusia prasejarah.

Menurut Pak T.Bachtiar didalam buku Bandung Purba yang ditulisnya, Di dalam gua Pawon ini terdapat ruangan yang bernama Goa Kopi yang didalamnya ditemukan banyak benda-benda budaya manusia prasejarah yang sangat melimpah. Di Goa Kopi inilah pada kedalaman 120cm terdapat kerangka Homo Sapiens dalam posisi duduk bertekuk (ngaringkuk). Kerangka berumur puluhan ribu tahun ini terlindungi oleh tanah vulkanis dari letusan gunung Tangkuban Parahu yang membuatnya masih tetap utuh sampai ditemukan pada bulan Oktober 2003. Kerangka ini masih bisa kita jumpai di Goa Pawon ini dalam bentuk replika yang disimpan dalam posisi dan kedalaman yang sama seperti saat ditemukan.

Jika sudah jenuh atau bingung mencari tempat wisata keren di akhir pekan, cobalah berkunjung ke Taman Batu dan Goa Pawon ini. Letaknya tidak jauh dari kota Bandung, sekitar 25km dari pusat kota ke arah Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Bila menggunakan kendaraan pribadi jarak ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar satu jam dari kota Bandung. Jika menggunakan kendaraan roda empat, bisa melalui tol Padaleunyi lalu keluar melalui gerbang tol Padalarang. Jika menggunakan kendaraan roda dua, melajulah menuju Padalarang lalu ikuti jalur menuju Cianjur. Biasanya jalan akan sedikit melambat di daerah Padalarang setelah Kota Baru Parahyangan. Di daerah ini kemacetan tidak mengenal waktu. Jalan akan kembali lancar setelah memasuki wilayah Cipatat dimana mulai terlihat perbukitan kapur di kiri kanan jalan. Selain itu banyak juga penjual Peuyeum dan aneka kerajinan gerabah dan marmer khas daerah ini.

Memasuki jalur ini jalur mulai lancar namun harus tetap berhati-hati karena jalanan menurun dan berkelok-kelok. Ikuti terus jalur ini hingga menemui Rumah Makan Setuju Utama di sebelah kiri jalan. Setelah melewati Rumah Makan Setuju Utama, melambatlah sambil perhatikan gapura Abu-abu dikanan jalan. Berbeloklah menuju Gapura tersebut dan ikuti jalan menuju Objek Wisata Goa Pawon.

Memasuki areal Wisata, anda harus membeli tiket masuk seharga Rp 5500 dan juga mencatat nama di buku tamu. Disini tersedia areal parkir yang cukup luas untuk mobil dan juga sepeda motor, terdapat bale-bale tempat istirahat, warung dan juga mushola (tajug).



Terdapat dua areal utama di tempat ini, yakni goa Pawon dan juga Taman Batu. Taman Batu ini terletak di atas bukit Pawon ini sehingga anda perlu mendaki bukit ini. Memang cukup berat bagi yang tidak terbiasa mendaki, namun percayalah walaupun lelah dan nafas tersengal anda akan menemukan pemandangan indah di atas bukit ini dan akan menjadi pengalaman yang berbeda dari tempat wisata lainnya.

Sebaiknya anda berkunjung terlebih dahulu ke areal Goa Pawon dimana terdapat tempat penemuan kerangka Homo Sapiens dan juga replikanya yang tersimpan pada posisi yang persis seperti saat penemuannya Oktober 2003. Disarankan anda membawa masker karena di dalam Goa Pawon ini bau Goano (kotoran kelelawar) sangat menyengat. Bau Amonia bisa membuat anda mual atau pusing bagi yang tidak terbiasa. Masuklah ke dalam goa dan ikuti jalan yang sudah tersedia. Terdapat banyak lubang di goa ini sehingga anda tidak akan khawatir akan gelap, selama hari masih siang, suasana di dalam goa ini tidak akan membuat anda takut.

Dulu Goa Pawon ini dianggap angker oleh masyarakat sehingga sangat jarang dikunjungi. Mungkin hanya digunakan sebagai tempat berkemah oleh sebagian orang. Terlihat dari banyaknya tulisan-tulisan dari tangan tidak bertanggung jawab yang berbekas di dinding goa. Selain itu dulunya masyarakat hanya memasuki goa ini ketika akan mengambil Goano (kotoran kelelawar) untuk dijadikan pupuk.

Setelah ditemukannya kerangka Homo Sapiens oleh Kelompok Riset Cekungan Bandung dan Balai Arkeologi, barulah tempat ini mulai banyak dikunjungi sampai akhirnya dilindungi dari penambangan kapur dan dijadikan objek wisata resmi oleh Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Kini tempat ini sudah banyak mengalami perbaikan untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Terutama akses jalan yang kini sudah sangat baik dibandingkan ketika saya dulu berkunjung ke sini pada 2004 dan 2012.

Dari Goa Pawon ini cobalah untuk sekarang mendaki bukit menuju Puncak Pasir Pawon yakni Taman Batu. Anda akan menemukan tempat yang tidak pernah anda temui sebelumnya di daerah Bandung. Sebuah tempat di puncak bukit yang di penuhi batu-batu menonjol diantara hijaunya tanaman sekitar. Jika anda teliti, anda bisa melihat Jalan Tol Cipularang dan juga jalur kereta Api Bandung - Jakarta dari sini.

Disarankan untuk mendaki di pagi hari agar anda bisa menikmati tempat ini ketika mentari tidak terlalu terik menyinari wilayah ini. Waktu yang tepat untuk berkunjung tempat ini adalah di pagi hari dan sore hari. Namun hindari jika sore hari turun hujan karena jalur mendaki akan sangat becek dan licin.

Bawalah perbekalan seperti minuman dan makanan kecil. Bisa juga membawa makanan berat untuk dinikmati di puncak sana setelah anda bersusah payah mendaki bukit ini. Namun tetap diingat untuk selalu menjaga kebersihan. Sayang sekali jika tempat ini harus dipenuhi sampah dari pengunjung.

Tertarik mencoba ke sini?? Ada banyak yang bisa dilakukan jika anda berkunjung ke tempat ini, apa saja?

Belajar Mengenal Sejarah Bandung di Zaman Purba

Taman batu Citatah, Cipatat ini merupakan bukti bahwa dulunya pulau Jawa ini pernah berada di dasar lautan dangkal. Bisa dibayangkan Pantai Utara Jawa ketika itu berada di wilayah Pangalengan dan Bandung termasuk Lautan dangkal di Utara Pulau Jawa. Menurut Buku Bandung Purba tulisan T. Bachtiar, kejadian ini terjadi pada masa Miosen Akhir, sekitar 10-5 juta tahun yang lalu. Kawasan Citatah, Cipatat ini merupakan The Greatest Barrier Reef ketika itu. Lautan dangkal dengan terumbu karang yang indah itu kini bisa disaksikan di Taman Batu Citatah ini.
 Jika anda mengunjungi tempat ini di musim kemarau, maka taman batu akan nampak menguning karena ilalang-ilalangnya nampak mulai mengering tak tersentuh air hujan. Wajar karena tempat ini hanya mendapatkan air dari air hujan saja. Di wilayah karst seperti ini akan sulit menemukan sumber air. Dulunya tempat ini dipakai warga untuk berkebun jika musim penghujan tiba.

Jika anda bekunjung ke tempat ini di musim penghujan, bersiap-siaplah untuk berkotor-kotor ria karena lapisan tanah gembur di sini akan nampak becek ketika diguyur air hujan. Datanglah ke tempat ini di bulan Maret-Agustus dimana merupakan peralihan musim kemarau ke musim penghujan.

Mengenal Nenek Moyang Manusia Bandung
replika kerangka Homo Sapiens di  Goa Pawon via adriarani.blogspot.com
Walaupun hanya berupa replika, tetapi di Goa Pawon ini kita masih bisa melihat bentuk kerangka homo sapiens yang diyakini merupakan nenek moyang manusia yang tinggal di daerah Jawa Barat. Dilihat dari posisi  ditemukannya, ini merupakan kebiasaan orang-orang jaman dahulu ketika memakamkan orang mati yakni dengan cara duduk di tekuk (seperti posisi bayi di dalam kandungan). Kerangka ini ditemukan di kedalaman 143 cm di salah satu ruangan yang terdapat di Goa Pawon ini. Selain kerangka, ditemukan juga ribuan serpihan batu obsidian yang berbentuk menyerupai kapak/ujung tombak. Serpihan batu ini diyakini sebagai alat untuk berburu yang digunakan nenek moyang manusia Bandung untuk menangkap hewan buruan.

Hiking Mendaki Gunung / Pasir Pawon
Pasir Pawon merupakan bukit kapur yang cukup tinggi untuk di daki. Butuh waktu sekitar 30-45 menit untuk mendaki bukit ini dari arah Goa Pawon. Bagi anda yang ingin sekedar hiking dan mencoba ketahanan tubuh anda, pasir Pawon ini cocok untuk dijajal. Jalurnya tidak terlalu ekstrim namun anda tetap mesti berhati-hati karena jalan yang dilalui berupa tanah bercampur batu kapur yang terkadang terjal, tajam dan akan licin jika turun hujan.


Di puncak Pasir Pawon ini anda akan menikmati pemandangan hijau Lembah Cibukur dari ketinggian. Jika anda teliti memandang ke arah Barat, anda juga bisa menikmati pemandangan jalan tol Cipularang di kejauhan dan juga jalur kereta Api Bandung-Jakarta yang dihiasi jembatan-jembatan yang menjulang.

Hunting Foto-Foto Keren Sepuasnya
Tidak usah dijelaskan lagi, anda bisa mencari spot-spot menakjubkan di tempat ini untuk berfoto






Sunday, 3 August 2014

Jalan-Jalan ke Curug Citambur, Curug di Wilayah Selatan Bandung, Perbatasan Bandung Cianjur



Curug Citambur, sebuah air terjun di ketinggian sekitar 100 meter. Terletak di antara perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur, tepatnya di desa Karang Jaya, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur. Walaupun letaknya di Kabupaten Cianjur, namun tempat ini lebih dekat jika ditempuh dari wilayah Ciwidey. Jaraknya sekitar 80 km dari kota Bandung atau sekitar 40 km dari Ciwidey. Bagi masyarakat di daerah Ciwidey, mungkin sudah terbiasa mendengar nama Curug ini. Tapi lain halnya dengan masyarakat di daerah lain, terutama di Kota Bandung. Nama Curug Cimahi atau Curug Malela mungkin lebih populer di telinga orang Bandung di bandingkan nama Curug Citambur.

Awal mula saya mengenal Curug Citambur adalah dari sebuah foto di Facebook Bapak T. Bachtiar sekitar bulan Januari 2014. Di Facebooknya beliau menceritakan mengenai keindahan curug ini. Sudah sejak dulu saya ingin mencicipi keelokan tempat ini, namun nampaknya kesempatan itu baru bisa terwujud di bulan Syawal 1435 H ini, tepatnya di hari 4 lebaran atau hari Kamis 31 Juli 2014. Liburan yang masih panjang dan cuaca cerah memang mendukung perjalanan saya kali ini ke Curug Citambur.

Berangkat dari rumah saya di Ciparay pukul 06.30 pagi, saya berniat untuk menghindari macet di daerah wisata Ciwidey. Berjalan menyusuri Ciparay-Baleendah-Banjaran-Soreang saya berjanji untuk berkumpul bersama dua orang teman saya di Masjid Agung Soreang. Jalanan ketika itu masih sepi, orang-orang masih bergembira di kampung halamannya masing-masing. Sedangkan saya yang asli warga Bandung begitu menikmati perjalanan tanpa kemacetan di pagi itu. Tak perlu waktu lama, sekitar pukul 07.15 saya sudah bertemu dua orang teman saya di sana. Tukang Bubur Ayam di seberang Swalayan Borma awalnya begitu menggoda perut saya ketika itu, namun teman saya menyarankan untuk makan di daerah Ciwidey saja karena semakin siang Ciwidey akan semakin macet.

Setengah delapan pagi di hari itu kami langsung meluncur melahap jalanan menanjak menuju Ciwidey. Jalanan masih lancar hingga melewati Terminal Ciwidey. Teman saya yang sepertinya sudah hapal betul suasana Cwidey di hari Lebaran nampak sudah melesat jauh di depan meninggalkan saya seorang diri. Saya lebih banyak menahan laju motor menikmati pancaran mentari di pagi itu. Dan memang benar ternyata, saya sempat terjebak macet di beberapa tempat karena ternyata sudah banyak kendaraan dari arah Bandung yang menuju Ciwidey. Tak ingin terlalu lama terjebak macet akhirnya saya pun ikut memacu motor saya lebih cepat, menghiraukan pemandangan pagi daerah Ciwidey untuk secepatnya menuju Perkebunan Teh Rancabali.

Beberapa hari yang lalu rasanya saya melewati tempat ini dengan lancar. Sehari sebelum lebaran saya sempat melewati jalanan ini di siang hari menuju tempat yang sama, Rancabali. Rasanya berbeda 180 derajat dengan sekarang. Orang tua dan anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, teteh-teteh, aa-aa berebut laju menuju Ciwidey. Masing masing dengan pakaian baru, sepatu baru dan juga kebahagiaan baru terpancar dari wajah mereka. Saya turut bahagia melihat suasana ini, ketika semua orang terlihat bergembira bersama-sama, sejalan dengan makna Meraih Kemenangan setelah melaksanakan ibadah Shaum sebulan penuh. Keluarga kecil nampak bersepeda motor ria, ada juga yang menaiki mobil bak terbuka dengan kain terpal menutupi di atasnya, agar keluarga besar yang biasanya terdiri dari Kakek, Nenek, Anak-Anak dan Cucu mereka bisa berwisata bersama tanpa kepanasan dengan biaya yang murah meriah. Bahagia itu sederhana kalau istilah anak muda sekarang.

Gerbang Kawah Putih lumayan lancar dilewati, walaupun pagi itu sudah banyak mobil luar kota hendak masuk. Laju motor melambat melewati padatnya kendaraan, tetapi saya masih bisa memacu motor tanpa menyentuhkan kaki di aspal. Laju kendaraan akhirnya benar-benar berhenti ketika melewati pintu masuk Ciwalini. Kali ini arus lalu lintas sempat stuck karena padatnya kendaraan yang hendak masuk Ciwalini.


Selain padat oleh orang-orang yang mau berwisata, jalur Ciwidey ini juga dipadati oleh para pemudik yang hendak pergi ke daerah Cianjur. Daerah Cianjur Selatan seperti Cidaun, Pagelaran lebih dekat jika ditempuh lewat jalur Ciwidey ini. Bisa dibayangkan menurut warga di daerah Pagelaran yang sudah terbiasa memasarkan hasil tani dan membeli keperluan lain dari Pasar Induk Caringin, jika ingin pergi ke Bandung mereka hanya membutuhkan waktu 2.5 jam lewat jalur Ciwidey, sedangkan jika lewat Cianjur kota, mereka membutuhkan waktu sekitar 7 jam perjalanan. Pantas saja di hari itu kendaraan di Ciwidey didominasi oleh Plat D, B, dan F.

Setelah bersabar menunggu kemacetan diurai, akhirnya motor bisa melaju kembali menuju Rancabali. Kendaraan menuju Patengan dan Rancabali rupanya tidak sebanyak tadi, jalur ini lebih lancar karena nampaknya wisatawan lebih banyak menuju Kawah Putih, Cimanggu dan Ciwalini. Warung-warung dadakan banyak berjejer dikunjungi para wisatawan di sepanjang jalan di Perkebunan Rancabali ini. Hijaunya perkebunan serasa menyejukkan mata, menyegarkan raga.

Berhenti sejenak sambil mengistirahatkan mesin motor yang sedari tadi meraung merayapi aspal menanjak, tiba-tiba saja teman saya menghampiri. Saya pikir mereka berdua sudah sampai duluan. Rupanya ada seorang lagi teman saya yang ingin menyusul. Jadi genaplah perjalanan kali ini diikuti empat orang. Namun rupanya kita harus menunggu dulu dia datang, rencana awal kita menikmati Curug Citambur dari pagi hari harus sedikit dirubah.
Sembari kita menunggu seorang teman yang ingin ikut gabung, saya putuskan untuk mencari tempat makan. Godaan Bubur Ayam di Soreang tadi masih terngiang di pikiran ini. Namun saya cari-cari di sini tak ada tukang Bubur Ayam.
Berhenti sejenak dikawasan yang berlatar belakang Gunung Patuha, sambil sesekali mencari tempat untuk menikmati secangkir kopi. Jam menunjukkan pukul 08.30 pagi dan semakin beranjak siang. Kendaraan semakin banyak berlalu lalang namun kebanyakan warga lokal dan juga pemudik yang lewat menuju arah situ Patengan dan juga Naringgul. Tujuan kita kali ini, Curug Citambur tidak akan melewati jalur Situ Patengan, tetapi berbelok ke arah Perkebunan Sinumbra, berjalan ke arah Barat menuju desa Cipelah.
Di pertigaan menuju Perkebunan Sinumbra, kita bertiga berhenti si sebuah warung makan, sekedar menikmati sarapan pagi. Mengisi tenaga agar bisa menikmati perjalanan menuju Curug Citambur dengan kondisi fit.
Tak ada menu istimewa di warung tersebut. Hanya ada menu ayam goreng dan beberapa tumis. Bosan dengan ayam goreng yang jadi menu utama semenjak buka bersama bulan puasa kemarin, akhirnya saya makan cukup dengan beberapa jenis tumis saja, ditemani segelas teh tawar panas, nikmat rasanya ditemani suasana sejuk kala itu.
Pukul sepuluh lewat, yang ditunggu akhirnya datang juga. Dedi datang seorang diri dengan motor maticnya siap bergabung dalam perjalanan kita kali ini menuju Curug Citambur. Tanpa menunggu lama akhirnya kita berbelok ke kanan, ke arah Barat menuju perkebunan Sinumbra.
Setelah berbelok, kita akan disuguhi pemandangan perkebunan Teh yang tak kalah indah dibandingkan dengan Rancabali, kondisi jalan lumayang baik namun semakin lama semakin banyak ditemui aspal mengelupas di sana sini. Motor saya tak bisa melaju lebih dari 30km/jam karena seekali harus melambat melewat jalanan dengan aspal rusak dan jalanan berpasir. Namun sejauh ini perjalanan masih menyenangkan untuk dinikmati, terutama beberapa spot pemandangannya yang menggoda saya untuk melirik di tengah fokus mengendarai.
Sesekali kami berpapasan dengan sepeda motor berplat F, rupanya banyak juga orang Cianjur yang nampaknya hendak berwisata ke Ciwidey. Ada juga beberapa plat D baik itu motor maupun mobil pribadi. Cuaca cerah membuat sebagian pemotor berhenti di pinggir jalan sekedar mengabadikan diri lewat kamera berlatar belakang perkebunan Sinumbra.

Jalanan berliku dengan kontur menurun harus kita lalui untuk menuju Curug Citambur ini, terkadang juga kita menemui jalanan bercabang yang lumayan membingungkan. Untung saja saat itu jalanan ramai, mungkin karena musim liburan jadi kita bisa mengikuti pengendara lain. Namun jika memang bingung, ikuti saja jalur jalan yang lebar. Tanyakan saja jalur menuju desa Cipelah karena desa inilah yang menjadi titik checkpoint perjalanan kita kali ini.

Jarak dari pertigaan di Rancabali menuju desa Cipelah sekitar 20 kilometer, bisa ditempuh dengan waktu sekitar satu jam karena laju motor tak bisa lebih dari 30km/jam, dan rupanya sepanjang itulah jalanan dengan kondisi baik yang bisa kita temui. Setelah melewati Desa Cipelah, yakni daerah pasar semacam alun-alun, maka jalanan yang kita lewati mulai memprihatinkan.

Entah karena musim lebaran, atau memang setiap hari seperti itu, sepanjang perjalanan saya menemui 3 kali aksi pungutan liar. Karena jalanan rusak, warga di sekitar berinisiatif memperbaiki jalan dengan menambal dengan bahan seadanya, namun warga tersebut juga meminta sumbangan dengan setengah memaksa atas kerjanya tersebut. Setiap pengendara yang lewat diberhentikan dan disuruh untuk memberikan sumbangan. Walaupun dengan seribu rupiah untuk setiap motor sudah cukup membuat mereka mengucapkan terima kasih, namun hal ini saya rasa cukup mengganggu bagi pengendara. Utamanya pengendara yang baru pertama kali lewat ke sini tentunya akan merasa aneh dengan praktek seperti ini. Semoga saja hal ini terjadi di musim lebaran saja dan tidak terjadi di hari-hari yang lain. Ini juga menjadi perhatian bagi Bupati Bandung karena jalan rusak ini menjadi penyebab terjadinya praktek pungutan seperti ini dan jalanan ini masih masuk wilayah kabupaten Bandung.
Desa Cipelah kita lewati, jalanan yang kita lewati semakin membuat badan bergetar. Bukan lagi jalanan aspal yang kita lewati, melainkan seperti susunan batu yang dibuat untuk penderita rematik yang biasa terdapat di Taman Lansia. Semakin menakutkan ketika jalanan yang kita lewati merupakan turunan atau tanjakan karena ban motor terasa selip ketika menanjak ataupun ketika melambat melewati turunan. Jika berboncengan sudah pasti anda akan was-was melewati jalanan ini, sesekali teman saya yang berboncengan berdua harus berhenti dan turun karena takut jatuh atau motor tidak bisa menanjak. Ini terjadi di musim kemarau, lalu bagaimana jika di musim penghujan. Saya rasa bukan ide bagus untuk berkunjung ke Curug Citambur di musim penghujan. Melihat jalanan seperti ini, rasanya saya khawatir jika membawa wanita hamil kesini, bisa-bisa keguguran di jalan pikirku setengah bercanda.
Yang menurut saya paling mengerikan dalam perjalanan pergi menuju Curug Citambur ini adalah sebuah turunan di daerah Cisabuk (kalau tidak salah). Turunan yang berbatu dan lumayan licin disuguhkan dihadapak kita berempat. Di sekitarnya sudah banyak warga yang berdiri di pinggir jalan, bersiaga membantu pengendara yang mungkin bisa saja terjatuh. Mereka berkata "lalaunan jang, leueur" (Pelan-pelan, nak.. licin). Memang jalanan nya licin dan warga disana berinisiatif menaburi turunan tersebut dengan semacam kulit padi (huut dalam bahasa sunda) agar jalanan tidak terlalu licin, namun tetap saja membuat ban motor sedikit selip kala melewatinya.  Motor saya sempat oleng menahan laju sambil ban selip saat menuruni jalanan ini. Warga mungkin sudah terbiasa melihat pengendara terjatuh di sini karena terdapat beberapa bekas selip dan goresan motor yang jatuh. Ngeri.
Pengendara yang berboncengan wajib menurunkan penumpangnya saat akan melewati turunan ini. Pengendara wanita yang berbarengan dengan kamipun harus meminta bantuan warga sana untuk membawakan sepeda motor maticnya menuruni jalanan ini. Sayapun harus menahan nafas saat menuruni jalan ini.

Sesampainya di sebuah SD (saya lupa kalau tidak salah namanya SD Cipelah) terlihat di kejauhan garis putih membujur memotong perbukitan. Ada banyak air terjun yang bisa kita saksikan dari kejauhan disini. Sepertinya kita hampir sampai, namun kita tidak tahu yang mana yang disebut Curug Citambur itu.
Karena yakin lokasi Curug Citambur sudah dekat, akhirnya kita tancap gas. Tak jauh dari sana kita melewati sebuah gapura bercat biru. Mungkin inilah perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur. Akhirnya setelah melewati Gapura tersebut, jalanan kembali mulus-lus-lus seperti jalanan perkotaan. Lega rasanya memacu motor di jalanan mulus seperti ini, sambil terus memperhatikan jatuhan air terjun yang terlihat dari kejauhan di dinding tebing.

Akhirnya sampailah di pintu masuk Curug Citambur di sebelah kanan jalan, tepat di depan kantor desa Karang Jaya. Waktu menunjukkan hampir tepat menuju jam 12 siang. Begitu masuk akan ada sebuah pemandangan berupa Danau atau Situ Rawasuro. Tiket masuk tempat wisata ini cukup murah, tiga ribu rupiah untuk satu orang pengunjung.
Sekitar 200 meter dari pintu masuk, kita harus melalui jalanan berbatu untuk sampai di tempat parkir berupa lapangan tanah berumput. Dari sini kita bisa melihat Air Terjun yang jatuh dari atas tebing di ketinggian sekitar 100 meter. Inilah dia Curug Citambur, Curahan Anugerah Tuhan di Perbatasan Bandung Cianjur.

Airnya nampak deras jatuh dari ketinggian, butiran air nampak memutih di sekitar jatuhannya. Kami mencoba mendekati sisi sebelah kanan dari Curug Citambur ini karena dari sinilah spot terdekat dengan jatuhan air yang bisa kita jangkau. Terlihat ribuan meter kubik air jatuh ke dasar curugan, bergemuruh. Konon dulu debit air Curug ini lebih besar daripada sekarang sehingga jatuhan air nya mengeluarkan suara burr..burr.. yang terdengar dari kejauhan, oleh sebab itulah Curug ini diberi nama Citambur.

Dari spot disini kita bisa melihat air mengelir melalui beberapa tumpukan batu bertingkat-tingkat hingga jauh ke bawah. Di bawah sana banyak juga pengunjung yang berenang menikmati segarnya aliran air dari Curug Citambur ini. Namun saya perhatikan tak ada pengunjung yang berenang di sekitar jatuhan air, entah  karena dilarang atau karena memang jatuhan airnya yang deras sehingga tak ada yang kuat menahannya.


Semakin mendekat ke arah curug, butiran air yang terbawa angin semakin deras menerpa. Kamera dan juga pakaian saya pun dibuat basah olehnya. Hati-hati karena terkadang angin menerpa cukup kencang bisa membuat anda tidak seimbang saat berdiri di ujung-ujung batu dekat Curug Citambur ini. Saya juga sempat merasa pusing saat berdiri mengambil beberapa foto di puncak-puncak batu dekat Curug Citambur ini. Apalagi saat melihat ke dasar lembah tempat aliran Curug ini mengalir, terlihat sangat dalam dan juga membuat saya penasaran ingin mencoba berenang menikmati airnya.
Kamipun berpindah mengambil spot ke arah bawah curug melewati sawah-sawah di sekitarnya. Disini kita bisa berenang menikmati aliran air Curug Citambur yang sangat dingin.







Saat asik berenang, muncul pertanyaan "Berapa tinggi Curug Citambur ini??" Saya mendapatkan informasi dari Facebook pak T. Bachtiar mengenai tinggi Curug Citambur ini. Tinggi air terjun ini pernah diukur oleh pak Reggi Kayong Munggaran, saat timnya berlatih di seni untuk pemanjatan gunung bersalju. Dari tambang yang dipakainya, diketahui tinggi tebing dari A ke C = 120 m. Dikurang A ke B = 2 m, jadi, tinggi air terjun itu = 118 m. Ditambah dari C ke D = 12 m. Jadi, tinggi Curug Citambur itu 118 + 12 m = lebih kurang 130 meter. 


Puas berenang membuat isi perut banyak terkuras. Di atas sebuah batu kita berempat membuka bekal nasi bungkus dari rumah. Isinya ya tidak mewah-mewah amat, kebanyakan tumis-tumis sisa masakan lebaran kemarin, hehe. Nikmatnya menyantap nasi berlatar air terjun dengan pemandangan tebing memanjang di kejauhan. Curug ini menghadap ke sebuah lembah yang nampak subur dialiri mata air dari bukit-bukit di sekitarnya.

Jam 3 sore rencananya kita segera bergegas pulang karena khawatir hari keburu gelap. Kami sempat ragu untuk melewati jalan yang kita lewati saat pergi. Apalagi sekarang perjalanan pulang akan lebih banyak disuguhi tanjakan. Sempat berbincang dengan tukang parkir di daerah Curug Citambur ini, beliau bercerita ada alternatif jalan lain yang bisa di tempuh menuju Bandung. Kita bisa melanjutkan perjalanan ke daerah Sukanagara, lalu menuju Cianjur kota untuk selanjutnya kembali ke Bandung lewat jalur Citatah-Padalarang. Namun jarak tempuhnya sekitar 7 jam perjalanan. Ya ampun!

Alternatif lainnya adalah kita bisa menuju wilayah Sindangbarang, untuk selanjutnya menyusuri Pantai menuju Cidaun, lalu berbelok ke kiri kembali ke arah Naringgul-Balegede-Rancabali-Ciwidey. Namun saya sudah hafal jalur ini dan memang sama-sama jauhnya dan sama-sama terjalnya. Apalagi sebentar lagi hari mulai gelap. Usulan terakhir si mang parkir ya lewat jalur tadi kita pergi. Beliau bercerita jalurnya memang terlihat ekstrim tapi yakin akan bisa dilalui mengingat saat ini jalurnya ramai, ttentunya banyak orang yang akan membantu jika terjadi sesuatu. lagi pula jalanan tidak seterjal jika musim kemarau. Beliau juga bercerita sering bolak balik Citambur-Pasar Induk Caringin untuk membeli keperluan warungnya dengan menaiki mobil bak terbuka lewat jalur tadi kita pergi dan hanya menghabiskan waktu 2.5 jam si pagi hari.

Well, pernyataan Tukang parkir yang terakhir ini sedikit membuat hati tenang. Akhirnya kita sepakat melewati jalan yang tadi kita lalui saat pergi. Berarti sekarang patokannya adalah Citambur-Cisabuk-Cipelah-Sinumbra-Rancabali-Ciwidey-Bandung.
Perjalanan pulang dimulai sore itu, jalanan mulus di daerah kabupaten Cianjur harus berakhir di wilayah perbatasan. Memasuki wilayah kabupaten Bandung, jalanan kembali rusak, berbatu dan berpasir. Benar-benar seperti track offroad, atau mungkin mirip dasar sungai kering.
Sebagai informasi, dalam perjalanan kali ini SPBU terakhir ada di wilayah Ciwidey. Jadi sebaiknya kita isi bensin full tank di SPBU Ciwidey saat pergi. Motor Jupiter MX teman saya yang dipakai berboncengan akhirnya harus minum bensin eceran di sini. Harganya lumayan mahal karena menurut pedangang, ini adalah harga lebaran, Rp 9000 / liter. Biasanya mungkin paling mahal antara Rp 7500-Rp 8000 / liter.
Walaupun jalanan terjal, namun perjalanan ternyata tak seberat yang kita kira. Tanjakan terjal yang saat perjalanan pergi tadi kita khawatirkan karena hampir-hampir sering jatuh saat menuruninya tidak terlalu sulit untuk di lewati. Memang harus menurunkan penumpang dibelakang agar motor bisa naik, namun syukurlah semuanya bisa dilewati dengan lancar. Jalanan semakin menanjak saat melewati jalan di depan SMPN 3 Rancabali, di sini satu jalur sudah dibeton namun sedikit hancur di sana sini karena kualitas betonnya yang buruk. Terbayang jika beton ini belum ada, akan sangat sulit bagi sepeda motor melewati tanjakan yang lumayan panjang dan berliku ini.

Akhirnya setelah melewati desa Cipelah, kita bisa menikmati kembali suasana perkebunan teh dan juga jalanan yang lebih manusiawi. Berarti dari sini kita tinggal menempuh 20 km lagi perjalanan yang lebih santai dibandingkan saat melewati jalur Cisabuk-Cipelah. Perjalanan pulang seperti tidak terasa karena begitu cepat, tidak seperti saat pergi. Rupanya benar kata tukang Parkir di Citambur tadi, jalanan ini tidak seseram yang tadi kita bayangkan. Sore itu matahari yang condong ke barat nampak membiaskan hijaunya pucuk-pucuk teh sehingga terlihat menguning.
Saat berkendara di tengah kebun teh, tiba-tiba dua orang anak memberhentikan kami karena minta tumpangan.
"Mang, ngiring ka sawah" teriak seorang anak
"Sawah di mana, kebon teh hungkul didieu mah" jawabku sambil berhenti
"Aya diditu" sambil menunjuk jalan ke depan

Entah kemana karena sepanjang perjalanan tadi saat pergi tak satupun sawah yang kulihat. Tapi biarlah, kasian juga mereka harus berjalan kaki.

Katanya mereka akan pulang sehabis main seharian, mereka berdua masih kelas dua SMP di SMPN 3 Rancabali yang tadi kita lewati. Lumayan jauh juga sekitar lebih dari 7 kilometer jalanan tadi kita lewati sedangkan menurut mereka setiap hari mereka berjalan kaki menuju sekolah karena tak ada angkutan apapun yang lewat sini. Paling jika ada pengendara motor yang tidak membawa penumpang mereka suka meminta tumpangan.
Setelah beberapa kilometer, kedua anak itu pun minta turun di sebuah daerah kubangan air. Semacam kolam dari air hujan. Kamipun meneruskan perjalanan pulang memberlah Sinumbra disinari mentari sore hari
Kebetulan memasuki pabrik perkebunan, ada sebuah masjid. Disana kami berhenti sejenak, melaksanakan shalat Ashar dan Dhuhur yang tadi terlewatkan. Waktu menunjukkan pukul empat sore. Kami perkirakan bisa sampai di rumah selepas maghrib.
Mesjid Miftahussalam ini menjadi checkpoint terakhir kami dalam perjalan pulang kali ini. Setelahnya kamipun melaju kencang menuju Rancabali yang sore itu kami pikir lengang, namun ketika mendekati Ciwalini, antrian kendaraan nampak memanjang tidak menunjukkan tanda-tanda akan bergerak sedikitpun. Kebanyakan dari mobil yang mengantri mematikan mesin mobilnya, tanda bahwa ini bukan macet biasa. Wisatawan dengan bak terbuka malah sempat memesan segelas kopi di warung pinggir jalan.

Akhirnya kami beriringan menyusuri arus berlawanan yang dari tadi nampak lengang. Sepertinya arus dari arah Bandung pun sama tersendatnya. Sesekali harus berdempetan dengan mobil dari arah berlawanan. Paling menjengkelkan jika mobil luar kota yang seenaknya saja membuang sampah ke jalan. Melemparnya lewat jendela tanpa melihat apakah ada pengendara lain atau tidak. Jadilah wisatawan yang santun hai pengendara mobil, saya pikir anda yang orang kota bermobil memiliki tata krama yang lebih baik, tapi ternyata lebih memalukan dari orang-orang yang tinggal di pedesaan.
Bau kopling dari mobil tercium menyengat, rupanya banyak bus dan mobil pribadi yang sedari siang hendak menuju Ciwalini sampai sore ini belum sampai ke tujuan. Untuk memutar balik saja sulit.

Akhirnya selepas Kawah Putih kami berempat terpisah oleh kemacetan. Hari juga sudah mulai gelap. Saya ingat ketika dulu terjebak macet seperti ini, ada jalan alternatif melewati perumahan penduduk di daerah dekat taman unyil. Letaknya ada sebelum taman unyil jika kita datang dari arah Kawah Putih, belok ke sebelah kanan. Ada warga sana yang turut membantu memberhentikan kendaraan lain untuk kendaraan yang akan berbelok ke sana. Namun rupanya jalannya tertutup portal dengan tulisan menggantung "MAAF JALAN DITUTUP, SEDANG ADA PENGECORAN" Sempat kecewa, namn ternyata seorang Bapak Hansip membukakan portalnya sambil berkata "Sok motor mah tiasa lebet" (silakan motor bisa masuk). Akhirnya saya lewati jalan alternatif ini, melewati perkebunan sayur milik warga dan juga perumahan yang tidak dilewati jika kita melewati jalan utama ke Ciwidey. Jalannya menurun dan sepi karena tidak ada pengendara lain yang tahu jalan ini selain warga sekitar. Saya sempat was-was takut tersasar ketika hari mulai gelap. Namun saya berpatokan selama jalannya menurun berarti saya menuju ke arah Bandung.

Benar saja tak lama kemudian saya bisa kembali memasuki jalan Raya di daerah alun-alun Ciwidey. Saya baru tahu rupanya ada jalan tembus dari Alun-Alun Ciwidey menuju taman unyil. Dari sini jalanan nampak lancar dan hari sudah gelap. Jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Saya lanjut membetot selongsong gas menuju jalur PasirJambu-Soreang-Banjaran-Baleendah hingga berakhir di rumah di Ciparay tepat pukul setengah delapan malam. Perjalanan ke Curug Citambur yang menakjubkan. Perjalanan lebih dari 12 jam yang tak akan pernah terlupakan.
loading...
 
Copyright © 2014 Rasendriya Bercerita. Designed by OddThemes